29 C
Medan
Selasa, 27 Juli 2021 09:43
Medan.tv Berita Cepat, Tepat dan Berimbang
Headlines Internasional

Kisah Inspiratif Gui Yuna Binaraga Wanita Berkaki Satu dahulu diejek Kini Juara

Foto: NOEL CELIS/AFP

Beijing ,Medan.tv – Hidup dalam keterbatasan fisik ternyata tidak membuat Gui Yuna patah semangat. Perempuan berusia 35 tahun itu membuktikan bahwa cacat fisik bukan penghalang baginya untuk menjuarai sebuah ajang binaraga.

Gui Yuna sukses mencuri perhatian publik di China dan menjadi viral setelah penampilannya di kejuaraan binaraga yang digelar oleh International Weightlifting Federation (IWF) di Beijing, China, pada pertengahan Desember 2020.

Dia menjadi satu-satunya kontestan yang muncul tanpa kaki yang lengkap. Dibantu sebuah tongkat penopang, ia berjalan dengan satu kaki yang beralaskan heels sembari memamerkan otot-otot tubuhnya dalam balutan bikini biru.

Aksinya pun berhasil memukau para juri. Di akhir acara, namanya diumumkan sebagai juara utama.

Ia tak menyangka akan membawa pulang gelar juara pertama. Apalagi kontes yang diikutinya itu tak dikhususkan bagi peserta dengan cacat fisik. Namun, ada hal lain di luar faktor fisik yang menurut Gui Yuna membuatnya spesial di mata juri.

“Menjadi pemenang bagiku sangat mungkin, tapi bukan karena profesionalisme atau ototku, melainkan rasa percaya diri dan keberanianku untuk tampil di atas panggung dan menunjukkan siapa diriku kepada semua orang,” kata Gui Yuna, seperti dikutip AFP, Kamis (7/1/2021).

Cacat Fisik Bukanlah Halangan Gui Yuna Untuk Mengapai Mimpinya

Gui Yuna sebenarnya lahir dalam kondisi fisik yang sempurna seperti kebanyakan orang. Namun, sebuah kecelakaan yang dialaminya saat berusia tujuh tahun menyebabkan Gui kehilangan kaki kanan.

Kejadian tersebut benar-benar merenggut kebahagiaan masa kecilnya. Hari-hari Gui di sekolah penuh dengan penindasan karena kondisi fisiknya yang berbeda.

“Mereka memanggilku si pincang atau kucing berkaki tiga,” kenang Gui.

Tak hanya verbal, perlakukan tak menyenangkan juga dialami secara fisik. Pernah suatu kali murid-murid di sekolahnya menendang tongkat penopang Gui sampai ia terjatuh.

“Pertama kali mereka membuatku jatuh, aku menangis. Namun, aku mulai terbiasa dan berpikir, ‘Mereka bisa saja menindasku, tapi aku akan baik-baik saja karena aku memiliki hati pemberani’,” kata Gui yang dibesarkan oleh ibunya seorang diri.

Pengalaman pahit tersebut lantas memotivasi Gui untuk mengasah bakatnya di bidang olahraga. Singkat cerita, pada 2001, ia mulai aktif terlibat dalam olahraga paralympic.

Lalu, tiga tahun kemudian, Gui lolos seleksi untuk mewakili China di Olimpiade Paralympic 2004 dalam cabang loncat jauh. Capaiannya kala itu berada di peringkat ke-7.

Gui kembali tampil Olimpiade dan Paralympic Beijing 2008. Ia bahkan mendapat kesempatan untuk membawa obor kebesaran Olimpiade.

Profesinya sebagai atlet berhenti pada 2017. Pensiun dari dunia olahraga, ia memutuskan untuk mencoba peruntungan sebagai karyawan korporasi.

Akan tetapi, kenyataan yang terjadi di luar harapannya. Berulang kali lamaran Gui ditolak karena perusahaan incarannya enggan mempekerjakan kaum disabilitas.

Menurut Gui, kehadiran orang sepertinya bisa merusak citra perusahaan.

“Aku melamar ke 20 perusahaan dan mereka mengatakan hal yang sama,” kata dia.

Pengalaman tersebut menjadi gambaran betapa parahnya diskriminasi terhadap orang-orang dengan kondisi fisik terbatas di Negeri Tirai Bambu tersebut.

Akan tetapi, Gui Yuna tak patah semangat. Setelah mencoba lagi, akhirnya sebuah perusahaan yang bergerak di industri interior rumah mau menerimanya.

Terlepas dari masa lalunya yang berat dan kelam, Gui Yuna tak pernah menyesalinya.

“Aku bersyukur aku harus melalui tantangan tersebut. Kenapa? Karena itu yang menjadikanku lebih kuat hingga bisa seperti saat ini,” paparnya.

sumber : AFP

Berita Terkait

Bob Hasan, Eks Menteri Era Soeharto Meninggal Dunia

admin

Anies Perpanjang Status Darurat Corona DKI Hingga 19 April

admin

Hoaks Covid-19, WHO Tegaskan Corona Tak Menular Lewat Udara

Husin

Leave a Comment